Cara Unik Bung Karno Memilih Perdana Menteri!
Ada secuil kisah yang tidak setiap orang mengetahuinya. Ini adalah sebuah cerita yang sebenarnya sangat pribadi yang dulunya hanya diketahui oleh 3 orang calon perdana menteri dan tentu Bung Karno sendiri. Kala itu sekitar tahun 1963, setelah Perdana Menteri Ir. H. Djuanda meninggal dunia terkena serangan jantung, Bung Karno sebagai Presiden ingin segera mengganti pejabat Perdana Menteri tersebut. Waktu itu ada 3 orang menteri yang dipercaya oleh Bung Karno, yang dianggap mampu menggantikan posisi Ir. H. Djuanda, yaitu Menteri Luar Negeri Soebandrio, Menteri Pangan Leimena, dan Menteri Pemuda Chaerul Saleh. Karena harus segera memilih salah seorang dari ketiga menteri itu, Bung Karno kemudian meminta ketiganya datang dalam suatu pertemuan. Setelah mereka bertiga berkumpul, kemudian Bung Karno memulai acara pemilihan melalui semacam permainan unik. Bung Karno memberi mereka bertiga masing-masing tiga batang korek api. Semula mereka bingung. Bung Karno menyatakan bahwa ini pemilihan yang adil dan demokratis. Masing-masing diberi sebatang korek utuh, setengah batang tanpa pentolan (karena sudah dipatahkan oleh Bung Karno), dan setengah batang dengan pentolan (juga sudah dipatahkan sebelumnya). Bung Karno kemudian meletakkan sebuah kantong di meja.Cara permainannya, batang korek utuh merupakan simbol Soebandrio, setengahbatang tanpa pentolan menjadi simbol Leimena, dan setengah batang dengan pentolan mewakili Chaerul. Bung Karno minta, masing-masing memilih satu saja untuk dimasukkan ke dalam kantong. Saat memasukkan korek ke kantong, tangan harus menggenggam supaya tidak diketahui yang lain. Pemilihan pun dimulai. Meskipun bentuknya sangat sederhana, tetapi inilah pemilihan Perdana Menteri Indonesia.Suasana hening. Bung Karno memandang masing-masing menteri yang memasukkan korek ke sebuah kantong. Sampai semuanya menggunakan hak pilihnya. Apa yang terjadi berikutnya? Bung Karno menumpahkan isi kantong itu secara blak-blakan. Yang tampak: sebatang korek utuh, setengah batang tanpa pentolan, dan setengah batang dengan pentolan. Lengkap.Bung Karno geleng-geleng kepala. Hasil suara seimbang untuk tiga kandidat. Pemilihan macet, mereka saling memandang satu sama lain. Lantas mereka kemudian saling terbuka. Soebandrio memilih Leimena, sebaliknya Leimena memilih Soebandrio, dan Chaerul memilih dirinya sendiri.Waktu itu secara lisan Leimena mengusulkan kepada Bung Karno agar Soebandrio saja yang menjabat sebagai perdana menteri, sehubungan dengan dalam masa itu, Indonesia butuh perhatian penuh di bidang luar negeri. Terutama menyangkut Irian Barat yangstatusnya belum jelas. Untuk itu perlu diplomasi internasional. Orang yang tepat adalah Soebandrio, ujarnya. Namun apa yang terjadi kemudian, Soebandrio malah mengusulkan tidak perlu merombak kabinet. Sebaiknya agar Bung Karno selain Presiden juga merangkap Perdana Menteri didampingi oleh para Waperdam (Wakil Perdana Menteri). Nah, Waperdamnya adalah mereka bertiga. Bung Karno kemudian menyetujuinya. Lalu Leimena main tunjuk saja , Soebandrio jadi Waperdam-I, LeimenaWaperdam-II, Chaerul Waperdam-III.Hebatnya, tanpa banyak bicara lagi semuanya sepakat. Itulah apa yang ditunjukkan Bung Karno dalam memimpin rapat. Meski dilakukan secara tertutup, tapi tetap mengedepankan demokrasi dan musyawarah untuk mencapai mufakat.
Sumber: Kompas dan cuplikan dari Buku Dr. Soebandrio, 'Kesaksianku Tentang G30S'.X-wo2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar